Review Anime Nana. Di tengah maraknya anime modern yang penuh aksi dan visual mencolok, Nana tetap berdiri tegak sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam genre drama dewasa. Anime yang tayang pertama kali pada 2006 ini, diadaptasi dari manga ikonik karya Ai Yazawa, terus mendapatkan perhatian baru bahkan di tahun 2026. Banyak penonton lama yang kembali menonton ulang, sementara generasi baru menemukannya melalui rekomendasi di platform streaming atau diskusi komunitas. BERITA BASKET
Cerita berpusat pada dua perempuan berusia awal dua puluhan bernama sama, Nana, yang bertemu secara kebetulan di kereta menuju Tokyo. Nana Osaki, si punk rocker tangguh yang mengejar mimpi membentuk band, dan Nana Komatsu (atau Hachi), gadis polos yang mencari cinta dan kehidupan baru di kota besar. Pertemuan mereka memicu ikatan tak terduga yang menjadi inti dari seluruh narasi—sebuah persahabatan yang rumit, penuh dukungan sekaligus konflik.
Dengan 47 episode yang sarat emosi, Nana bukan sekadar cerita tentang musik atau romansa, melainkan potret jujur tentang perjuangan dewasa muda, ambisi, ketergantungan, dan konsekuensi pilihan hidup.
Karakter dan Hubungan yang Sangat Manusiawi: Review Anime Nana
Salah satu alasan utama Nana terasa begitu abadi adalah kedalaman karakternya. Tidak ada yang sempurna di sini. Nana Osaki tampak kuat dan independen di luar, tapi di balik sikap dinginnya tersimpan luka masa lalu dan ketakutan kehilangan orang terdekat. Sementara Hachi sering dianggap naif dan clingy, keputusannya yang impulsif justru mencerminkan kerentanan yang sangat relatable bagi banyak orang di usia dua puluhan.
Hubungan antar karakter tidak pernah hitam-putih. Persahabatan antara dua Nana menjadi pondasi cerita, tapi romansa dengan Ren, Takumi, Nobu, dan yang lain menambah lapisan kompleksitas. Cinta di anime ini bukan tentang happy ending instan, melainkan tentang bagaimana orang saling menyakiti, memaafkan, dan berusaha bertahan bersama meski penuh kesalahan.
Karakter pendukung seperti Yasu, Shin, dan Reira juga mendapat porsi yang seimbang. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan punya arc sendiri yang memperkaya dunia cerita. Semua ini membuat penonton merasa seperti mengamati kehidupan nyata—penuh drama, tapi juga penuh kehangatan.
Musik dan Atmosfer yang Tak Tertandingi: Review Anime Nana
Musik adalah nyawa dari Nana. Soundtrack yang dibawakan oleh Anna Tsuchiya dan Olivia Lufkin terasa sangat autentik sebagai punk rock Jepang era itu. Lagu-lagu seperti “Rose” atau “Wish” bukan hanya pengiring, tapi benar-benar bagian dari emosi karakter. Saat Trapnest atau Black Stones tampil, penonton bisa merasakan getaran panggung, kegembiraan sukses, dan kepedihan di balik sorotan lampu.
Visualnya pun tetap memikat meski sudah berusia hampir dua dekade. Desain karakter Ai Yazawa yang khas—fashion punk, rambut berwarna, dan gaya hidup urban—terasa timeless. Animasi dari Madhouse berhasil menangkap suasana Tokyo tahun 2000-an dengan baik, dari apartemen kecil di pinggiran hingga venue konser yang ramai.
Atmosfer keseluruhan anime ini terasa sangat dewasa. Tidak ada fanservice murahan atau trope shoujo klise berlebihan. Sebaliknya, ada pembahasan terbuka tentang seks, perselingkuhan, kehamilan, dan tekanan karier—semua disajikan dengan sensitif dan realistis.
Kekuatan, Kelemahan, dan Harapan di Masa Kini
Kekuatan terbesar Nana adalah keberaniannya menunjukkan sisi gelap kehidupan dewasa tanpa menghakimi. Tema seperti codependency, trauma, dan ambisi yang menghancurkan terasa sangat relevan, bahkan lebih dari sebelumnya di era sekarang. Banyak penonton yang menonton ulang di tahun-tahun terakhir sering berkata bahwa mereka memahami karakter lebih dalam karena pengalaman hidup mereka sendiri sudah lebih matang.
Sayangnya, kelemahan paling mencolok adalah akhir cerita yang menggantung. Anime berhenti di tengah jalan karena manga juga terhenti sejak 2009 akibat masalah kesehatan sang pencipta. Banyak yang merasa frustrasi karena klimaks emosional besar belum terselesaikan. Namun, di 2025-2026, kabar positif mulai bermunculan—Ai Yazawa menyatakan bahwa cerita sudah memasuki tahap akhir dan akan diselesaikan suatu hari nanti. Hal ini membuka harapan baru, baik untuk kelanjutan manga maupun potensi remake atau season baru anime.
Kesimpulan
Nana bukan anime yang mudah dilupakan. Ia adalah perpaduan sempurna antara drama emosional, musik yang membakar semangat, dan karakter yang terasa hidup. Meski belum selesai, justru ketidaklengkapan itu yang membuatnya terus hidup dalam diskusi dan rewatch para penggemar.
Bagi yang belum pernah menonton, ini adalah salah satu pengalaman anime paling berharga yang bisa didapat—cerita tentang persahabatan, cinta, dan mimpi yang terasa begitu nyata. Bagi yang sudah lama mengenalnya, setiap kali kembali, Nana selalu memberi perspektif baru. Di tahun 2026 ini, ketika banyak orang kembali mencarinya, anime ini membuktikan bahwa karya bagus memang tak lekang oleh waktu. Jika Anda mencari sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan ringan, Nana adalah jawabannya—penuh luka, tapi juga penuh harapan.