Review Anime Devilman Crybaby. Anime Devilman Crybaby tetap menjadi salah satu adaptasi paling berpengaruh dan kontroversial di dunia anime hingga sekarang. Tayang pada 2018 dengan 10 episode, seri ini merupakan reimajinasi modern dari manga klasik karya Go Nagai, disutradarai oleh Masaaki Yuasa dengan gaya animasi yang sangat khas. Cerita mengikuti Akira Fudo, seorang remaja biasa yang menyatu dengan iblis Amon untuk menjadi Devilman—makhluk setengah manusia setengah iblis yang berjuang melawan invasi demon di Bumi. Awalnya terlihat seperti kisah superhero gelap, tapi segera berubah menjadi tragedi apokaliptik penuh kekerasan, seks, dan pertanyaan filosofis tentang kemanusiaan. Dengan animasi yang liar, musik elektronik yang intens, dan narasi tanpa sensor, anime ini tidak sekadar hiburan—ia adalah pengalaman yang mengguncang dan memaksa penonton merefleksikan sifat baik dan jahat dalam diri manusia. Meski sudah beberapa tahun berlalu, Devilman Crybaby masih sering dibahas karena keberaniannya tidak mengkompromikan kekerasan dan kedalaman emosionalnya. BERITA BASKET
Plot yang Brutal dan Tak Terduga: Review Anime Devilman Crybaby
Cerita dimulai dengan pertemuan Akira dengan teman masa kecilnya, Ryo Asuka, yang mengungkapkan bahwa iblis telah menyusup ke dunia manusia. Ryo memaksa Akira untuk menyatu dengan iblis Amon melalui ritual, mengubahnya menjadi Devilman—makhluk yang mempertahankan hati manusia di dalam tubuh iblis. Dari situ, Akira berjuang melawan demon yang menguasai tubuh manusia, sambil mencoba melindungi orang-orang terdekatnya, terutama Miki Makimura. Plot bergerak cepat dan tanpa ampun: kekerasan grafis, pembantaian massal, dan pengkhianatan terjadi di hampir setiap episode. Yuasa tidak menahan diri dalam menggambarkan horor—darah, mutilasi, dan adegan seksual eksplisit disajikan secara langsung untuk menekankan kegelapan dunia yang runtuh. Di tengah kekacauan, terungkap bahwa Ryo memiliki agenda sendiri yang mengarah pada akhir apokaliptik. Tidak ada happy ending atau penebusan mudah; cerita berakhir dengan tragedi total yang membuat penonton merasa hancur. Pacing yang cepat dan twist yang datang tanpa peringatan membuat setiap episode terasa seperti pukulan bertubi-tubi, tapi justru itulah yang membuatnya begitu adiktif dan sulit dilupakan.
Tema Kemanusiaan, Kejahatan, dan Kehancuran Moral: Review Anime Devilman Crybaby
Salah satu kekuatan terbesar Devilman Crybaby adalah eksplorasi mendalam tentang apa artinya tetap manusia di tengah kekacauan. Akira mewakili harapan bahwa cinta dan empati bisa bertahan meski tubuhnya menjadi iblis, tapi realitas menunjukkan sebaliknya: manusia sering kali lebih kejam daripada iblis itu sendiri. Anime ini mempertanyakan batas antara baik dan jahat—apakah kejahatan lahir dari dalam diri manusia, atau dari pengaruh luar? Tema ini diperkuat melalui Ryo, yang menjadi katalis kehancuran dengan keyakinan dinginnya bahwa umat manusia tidak layak bertahan. Ada kritik sosial tajam tentang paranoia, diskriminasi, dan bagaimana masyarakat dengan mudah berubah menjadi massa yang haus darah ketika ketakutan menguasai. Kekerasan seksual dan gore bukan sekadar shock value; semuanya digunakan untuk menggambarkan degradasi moral yang cepat di bawah tekanan apokaliptik. Penonton dipaksa melihat bahwa “devilman” bukan hanya Akira—setiap manusia punya potensi menjadi monster ketika diberi kekuasaan atau ketakutan yang cukup. Tema ini disajikan tanpa judgement, membuat penonton terus merenung tentang sifat dasar manusia.
Animasi, Musik, dan Atmosfer yang Intens
Gaya animasi Masaaki Yuasa di Devilman Crybaby sangat khas—garis yang fleksibel, warna-warna cerah yang kontras dengan kekerasan gelap, dan gerakan yang cair serta ekspresif. Adegan transformasi Akira menjadi Devilman terasa liar dan organik, sementara pembantaian massal digambar dengan detail yang mengganggu tapi artistik. Transisi antara dunia nyata dan halusinasi sering kali kabur, menciptakan rasa paranoia yang konstan. Musiknya menjadi elemen utama: soundtrack elektronik dan rock yang intens, ditambah lagu pembuka serta penutup yang penuh energi, membuat setiap adegan terasa seperti ledakan emosi. Suara efek seperti jeritan, darah yang menyembur, dan musik latar yang berdenyut meningkatkan ketegangan hingga puncaknya. Semua elemen ini bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman sensorik yang overpowering—tidak ada momen tenang sepanjang seri, dan itulah yang membuatnya terasa begitu hidup dan mencekam.
Kesimpulan
Devilman Crybaby adalah anime yang tidak dirancang untuk semua orang. Ia brutal, eksplisit, dan tanpa kompromi dalam menyampaikan pesan tentang kegelapan manusia. Masaaki Yuasa berhasil menghidupkan kembali klasik Go Nagai dengan cara yang segar dan modern, tanpa kehilangan esensi asli yang penuh amarah dan tragedi. Meski durasinya pendek, dampak emosionalnya sangat besar—banyak penonton merasa terguncang, marah, atau bahkan terinspirasi setelah menonton. Bagi yang menyukai cerita dystopia gelap, horror psikologis, atau karya yang berani menantang batas, seri ini wajib ditonton meski dengan persiapan mental. Pada akhirnya, Devilman Crybaby mengingatkan bahwa kejahatan terbesar sering bukan dari iblis luar, melainkan dari manusia yang menyerah pada ketakutan dan kebencian. Karya ini tetap menjadi salah satu anime paling kuat, gelap, dan tak terlupakan yang pernah ada.