Review Anime Gachiakuta. Anime Gachiakuta baru saja menyelesaikan musim pertamanya pada akhir Desember 2025, setelah tayang selama 24 episode tanpa jeda sejak Juli lalu. Adaptasi dari manga karya Kei Urana ini langsung mencuri perhatian sebagai salah satu serial shonen gelap yang segar di tahun ini. Cerita mengikuti Rudo, seorang pemuda dari kawasan kumuh yang difitnah pembunuhan dan dibuang ke lubang sampah raksasa bernama Pit. Di sana, ia bertahan hidup sambil membalas dendam, dengan latar dunia dystopia yang penuh monster sampah dan ketidakadilan sosial. Anime ini berhasil memadukan aksi intens, humor ringan, dan kritik tajam terhadap pemborosan serta kesenjangan kelas, membuatnya terasa relevan dan menghibur sekaligus. BERITA BOLA
Plot dan Dunia yang Dibangun: Review Anime Gachiakuta
Cerita Gachiakuta berlatar di kota terapung bernama Sphere, di mana penduduk kaya membuang segala sesuatu dengan mudah, termasuk manusia yang dianggap sampah. Rudo, yang dibesarkan di pinggiran kumuh, membenci sikap boros itu dan sering mencari barang berguna dari tumpukan limbah. Saat ayah angkatnya dibunuh dan ia difitnah, Rudo jatuh ke Pit—dunia bawah tanah penuh monster raksasa yang lahir dari sampah terabaikan. Di sini, ia bergabung dengan kelompok Cleaners, para pembersih yang melawan ancaman tersebut.
Plot bergerak cepat, penuh twist emosional dan pertarungan seru. Musim pertama menutup dengan akhir terbuka yang menggoda, langsung diumumkan akan ada musim kedua. Dunia yang dibangun terasa hidup, dengan aturan unik di mana benda pribadi yang dicintai bisa menjadi senjata kuat bernama Vital Instrument. Elemen ini menambah kedalaman, karena kekuatan karakter tergantung pada ikatan emosional mereka dengan barang sehari-hari, bukan sekadar bakat bawaan.
Karakter dan Sistem Kekuatan: Review Anime Gachiakuta
Rudo sebagai protagonis utama sangat menonjol. Ia pemarah, penuh dendam, tapi perlahan berkembang menjadi sosok yang lebih matang melalui interaksi dengan teman-temannya. Karakter pendukung seperti anggota Cleaners juga beragam, dari yang lucu hingga misterius, dengan latar belakang yang membuat mereka mudah disukai. Ada rival yang kuat, pemimpin bijaksana, dan antagonis yang mewakili sisi gelap masyarakat.
Sistem kekuatan menjadi salah satu daya tarik utama. Vital Instrument muncul dari benda yang punya nilai sentimental, seperti mainan masa kecil atau barang warisan. Saat digunakan, mereka berubah menjadi senjata epik dengan kemampuan unik. Ini membuat setiap pertarungan kreatif dan visualnya memukau, jauh dari formula standar shonen. Humor sering muncul dari situasi absurd di tengah aksi, menyeimbangkan nada gelap cerita tanpa terasa dipaksakan.
Animasi dan Aspek Visual
Secara visual, Gachiakuta tampil beda dengan gaya grunge dan street art yang kental. Desain karakter penuh detail, dengan pakaian usang yang cocok untuk dunia pasca-apokaliptik. Pertarungan dianimasikan dengan fluid, efek monster sampah terlihat menyeramkan sekaligus inovatif. Warna gelap mendominasi Pit, kontras dengan Sphere yang steril, memperkuat tema kesenjangan. Musik pendukungnya juga pas, meningkatkan ketegangan saat aksi dan memberi nuansa emosional di momen tenang. Secara keseluruhan, produksi ini terasa polished dan setia pada manga asli.
Kesimpulan
Gachiakuta berhasil menjadi salah satu anime standout tahun 2025, meski awalnya sempat dianggap formulaik oleh sebagian penonton. Dengan cerita yang dalam, karakter relatable, dan sistem kekuatan orisinal, serial ini menawarkan lebih dari sekadar aksi biasa—ia mengajak refleksi tentang masyarakat sambil tetap menghibur. Musim pertama berakhir memuaskan, meninggalkan banyak potensi untuk kelanjutan. Bagi penggemar shonen gelap yang suka elemen sosial dan pertarungan kreatif, anime ini wajib ditonton. Pengumuman musim kedua makin menambah antusiasme, menjanjikan petualangan Rudo yang lebih besar lagi. Secara keseluruhan, Gachiakuta layak mendapat tempat di daftar favorit banyak orang.