Review Anime Higurashi When They Cry. Higurashi When They Cry mengisahkan Keiichi Maebara, remaja yang baru pindah ke desa kecil Hinamizawa, serta teman-temannya di klub Rena, Mion, Satoko, dan Rika. Awalnya cerita terlihat seperti slice-of-life ringan dengan permainan klub yang lucu, tapi perlahan terungkap misteri mengerikan: setiap tahun Juni terjadi “Oyashiro-sama’s curse” yang menewaskan satu orang dan membuat satu orang hilang. Anime ini diadaptasi dari visual novel karya Ryukishi07, menghadirkan struktur cerita berlapis dengan arc-arc yang saling terkait, di mana setiap season mengulang waktu dengan perspektif berbeda dan pengungkapan baru. Meski sudah berlalu hampir dua dekade sejak season pertama tayang pada 2006, Higurashi masih terasa sangat relevan karena tidak mengandalkan jumpscare murahan; fokusnya pada paranoia, psikologi massa, trauma, dan pertanyaan tentang kebenaran yang tersembunyi di balik kedamaian desa. BERITA BASKET
Atmosfer Horor Psikologis yang Mencekam dan Pembangunan Ketegangan yang Luar Biasa: Review Anime Higurashi When They Cry
Atmosfer Higurashi adalah salah satu yang paling menyesakkan di anime horor. Setiap arc dibangun dengan hati-hati: awalnya penuh kehangatan desa pedesaan, suara jangkrik, dan tawa anak-anak, lalu perlahan berubah menjadi kegelapan yang menekan melalui detail kecil seperti tatapan kosong, senyum aneh, atau suara kapak yang jauh. Kematian yang brutal—dari pemenggalan hingga bunuh diri—datang tanpa peringatan, tapi tidak pernah terasa murahan karena disertai pembangunan paranoia yang panjang. Musik latar yang minimalis namun menusuk, efek suara jangkrik yang semakin intens, serta visual yang sederhana tapi penuh simbolisme membuat penonton terus merasa gelisah. Adegan-adegan seperti “Watanagashi-hen” atau “Meakashi-hen” terasa seperti mimpi buruk yang lambat, di mana ketegangan psikologis jauh lebih menakutkan daripada gore itu sendiri. Pembangunan ini membuat setiap pengulangan waktu terasa lebih berat dan meninggalkan dampak emosional yang kuat, bukan sekadar shock sementara.
Karakter yang Kompleks dan Perkembangan Emosional yang Mendalam: Review Anime Higurashi When They Cry
Keichi Maebara adalah protagonis yang sangat manusiawi: awalnya polos dan ramah, tapi perlahan terpengaruh paranoia desa hingga menjadi sosok yang curiga dan berbahaya. Perkembangannya penuh penderitaan—trauma membuatnya kehilangan akal sehat, tapi juga membuka mata tentang kebenaran. Rika Furude dan Hanyuu adalah inti cerita: Rika yang terjebak dalam lingkaran waktu selama ratusan tahun, menyembunyikan keputusasaan di balik senyum polosnya, sementara Hanyuu yang lemah lembut menjadi simbol harapan kecil di tengah keputusasaan. Karakter pendukung seperti Rena, Mion, Satoko, dan Shion juga punya lapisan gelap yang dalam—mereka bukan sekadar teman, melainkan korban dan pelaku dalam siklus kekerasan yang sama. Anime ini berhasil membuat penonton ikut merasakan konflik internal para karakter: rasa bersalah Keiichi, keputusasaan Rika, atau amarah Shion yang membutakan. Interaksi antar karakter penuh nuansa—dari kehangatan klub hingga kekejaman yang muncul dari trauma—membuat cerita terasa hidup dan emosional.
Tema Mendalam tentang Trauma, Paranoia, dan Pengampunan
Higurashi unggul karena tema utamanya yang sangat dalam: bagaimana trauma kolektif dan paranoia bisa menghancurkan komunitas dari dalam. Kutukan Oyashiro-sama menjadi metafora untuk siklus kekerasan yang berulang karena orang tidak mau menghadapi kebenaran atau masa lalu. Anime ini tidak menghakimi karakter—setiap orang punya alasan untuk bertindak kejam, baik karena trauma, tekanan sosial, atau rasa takut. Pesan tentang pengampunan dan pemahaman saling muncul perlahan di arc akhir, di mana karakter belajar bahwa kebenaran bisa menyakitkan tapi juga membebaskan. Visual yang sederhana namun penuh simbolisme—seperti jangkrik, jarum suntik, atau mata merah—memperkuat rasa tidak nyaman, sementara momen-momen kecil seperti tawa Rika atau kehangatan klub memberikan jeda emosional yang sangat dibutuhkan. Meski endingnya terasa bittersweet dan kontroversial bagi sebagian penonton, pesan tentang pentingnya empati dan memutus siklus kekerasan tetap kuat dan meninggalkan kesan mendalam.
Kesimpulan
Higurashi When They Cry adalah anime horor psikologis yang berhasil menggabungkan ketegangan mencekam, karakter kompleks, dan tema mendalam tentang trauma serta pengampunan tanpa mengandalkan jumpscare murahan. Atmosfer dingin, pembangunan cerita yang perlahan tapi memukau, serta pesan tentang empati membuatnya tetap menjadi salah satu karya terbaik di genrenya. Di tengah banyak anime horor modern yang mengutamakan gore atau twist cepat, Higurashi menawarkan kengerian yang lebih dalam—kengerian dari paranoia manusia dan siklus kekerasan yang tak pernah putus. Bagi yang belum menonton, ini adalah anime yang pantas diberi kesempatan, terutama jika suka cerita misteri yang emosional dan tidak takut membuat penonton merasa tidak nyaman. Higurashi mengingatkan bahwa kadang horor terbesar bukan dari monster luar, melainkan dari dalam diri manusia sendiri dan keputusan yang terlambat. Jika mencari anime yang terasa seperti mimpi buruk yang indah dan mendalam, Higurashi When They Cry adalah pilihan tepat yang tidak akan mudah dilupakan.