Review Anime Inuyashiki

review-anime-inuyashiki

Review Anime Inuyashiki. Inuyashiki tetap menjadi salah satu anime paling gelap dan provokatif dalam genre sci-fi superhero, bahkan setelah hampir sembilan tahun sejak tayang pada akhir 2017; karya ini mengambil premis sederhana tentang dua orang yang secara tak sengaja menjadi cyborg dengan kekuatan luar biasa setelah insiden misterius, tapi kemudian memutarnya menjadi eksplorasi mendalam tentang kemanusiaan, pilihan moral, serta bagaimana kekuatan absolut bisa membawa seseorang ke arah penebusan atau kehancuran total. Cerita yang berfokus pada seorang pria tua yang terpinggirkan keluarga dan remaja psikopat yang haus kekerasan ini tidak pernah berusaha menjadi hiburan ringan—ia justru menghantam penonton dengan kekerasan grafis ekstrem, momen emosional yang menyayat, serta pertanyaan filosofis tentang apa yang membuat seseorang tetap manusia di tengah tubuh mesin, sehingga di tahun 2026 ini anime ini masih sering direkomendasikan ulang atau dibahas karena temanya terasa semakin relevan di era di mana teknologi dan kekuasaan sering kali bertabrakan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan. BERITA BOLA

Latar dan Alur Cerita yang Intens: Review Anime Inuyashiki

Cerita dimulai dengan Ichirō Inuyashiki, seorang pria berusia 58 tahun yang hidupnya penuh penderitaan—sakit punggung kronis, keluarga yang acuh tak acuh, serta diagnosis kanker yang menyisakan waktu hidup singkat—sehingga ia sering merasa tak berharga dan tak dicintai; setelah malam di mana ia menangis di taman bersama anjing peliharaannya, sebuah insiden aneh mengubahnya menjadi cyborg dengan kemampuan super seperti terbang, menyembuhkan penyakit, serta menembakkan senjata dari tubuhnya. Di saat yang sama, remaja bernama Hiro Shishigami juga terlibat dalam kejadian tersebut dan mendapatkan kekuatan serupa, tapi ia memilih jalan gelap dengan membunuh orang-orang secara acak hanya untuk merasakan sensasi hidup, mulai dari teman sekolah hingga keluarga tak bersalah. Alur berkembang dari skala kecil menjadi ancaman global ketika kekuatan mereka bertabrakan, dengan Inuyashiki berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa sementara Hiro terus menimbulkan kekacauan, sehingga cerita yang hanya sebelas episode ini terasa sangat padat, penuh kejutan, serta bergerak cepat menuju klimaks yang tragis dan tak terduga tanpa pernah memberi ruang bagi harapan palsu.

Karakter dan Konflik Moral yang Kuat: Review Anime Inuyashiki

Kekuatan utama anime ini terletak pada karakter utamanya yang ditulis dengan kedalaman luar biasa; Inuyashiki adalah sosok langka sebagai protagonis utama yang sudah tua, penuh penyesalan atas hidupnya yang gagal, tapi justru menemukan makna baru melalui kekuatannya dengan cara yang sangat tulus dan tanpa pamrih—ia menyembuhkan orang sakit, menyelamatkan korban, serta berusaha mendekatkan diri kembali dengan keluarganya meski sering ditolak. Sebaliknya, Hiro Shishigami hadir sebagai antagonis yang sangat mengganggu karena ia bukan sekadar jahat karikatural—ia adalah remaja biasa yang merasa mati rasa, menggunakan kekuatan untuk membunuh demi merasakan emosi apa pun, tapi di sisi lain ia masih punya sisa kemanusiaan ketika berhubungan dengan ibunya, sahabatnya, atau orang-orang tertentu yang membuatnya ragu. Konflik antara keduanya bukan hanya pertarungan fisik, melainkan perdebatan filosofis tentang bagaimana kekuatan bisa memperkuat atau menghancurkan jiwa manusia, sehingga penonton diajak melihat bahwa garis antara pahlawan dan penjahat sering kali hanya bergantung pada pilihan hati di saat-saat paling gelap.

Visual, Kekerasan, dan Pendekatan yang Berani

Visual anime ini menjadi salah satu aspek yang paling kontroversial sekaligus unik, dengan penggunaan CGI yang dominan untuk adegan aksi dan transformasi cyborg yang membuat gerakan terasa mekanis dan dingin, sesuai dengan tema tubuh yang bukan lagi manusia sepenuhnya; meskipun CGI-nya kadang terlihat kaku atau kurang mulus dibanding animasi 2D tradisional, justru pendekatan ini memperkuat rasa alienasi serta ketakutan yang ingin disampaikan. Kekerasan digambarkan tanpa ampun—pembunuhan massal, darah berceceran, serta adegan grafis yang sangat eksplisit—sering kali disertai keheningan total tanpa musik latar, sehingga efeknya terasa lebih menyesakkan dan realistis daripada sekadar shock value. Pendekatan berani ini membuat anime terasa seperti pukulan telak, dengan suara realistis, dialog yang tidak berlebihan, serta momen-momen sunyi yang menonjolkan emosi mentah para karakternya, sehingga meskipun durasinya singkat, dampaknya tetap membekas lama setelah episode terakhir usai.

Kesimpulan

Inuyashiki adalah anime yang tidak mudah direkomendasikan secara sembarangan karena tingkat kegelapan, kekerasan, serta emosi berat yang dibawanya, tapi bagi yang mencari cerita superhero dewasa yang jauh dari formula biasa, ini adalah karya yang luar biasa karena berhasil menyelami sisi tergelap dari kekuasaan sambil tetap mempertahankan pesan tentang harapan, penebusan, dan pentingnya mempertahankan kemanusiaan meski tubuh sudah menjadi mesin. Hampir satu dekade berlalu, anime ini masih sering dibicarakan sebagai salah satu yang paling underrated namun impactful karena keberaniannya menampilkan pahlawan tua yang rapuh sebagai pusat cerita, serta kontras tajam dengan antagonis yang mewakili sisi tergelap remaja modern. Jika Anda siap menghadapi sesuatu yang menyakitkan, menggugah, dan tak terlupakan, Inuyashiki layak sekali ditonton—sebuah pengingat bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada senjata di tubuh, melainkan pada pilihan untuk tetap peduli pada sesama di tengah dunia yang kejam.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post