Review Anime School Rumble. Di awal 2026, School Rumble tetap menjadi salah satu anime komedi romansa sekolah paling ikonik dan sering ditonton ulang oleh penggemar genre slice-of-life yang absurd. Hampir dua dekade setelah season pertama tayang pada 2004, anime ini kembali menjadi perbincangan hangat setelah pemutaran ulang di berbagai platform streaming akhir 2025 serta diskusi masif di komunitas online pasca peringatan ulang tahun ke-20 seri utama. School Rumble bukan sekadar cerita cinta remaja biasa; ia adalah ledakan kekacauan lucu, salah paham bertubi-tubi, dan situasi absurd yang membuat penonton tertawa sampai sakit perut. Dengan protagonis Harima Kenji—preman sekolah yang jatuh cinta pada gadis pendiam Tenma Tsukamoto—dan Tenma yang malah naksir kakak Harima, anime ini membangun romansa yang rumit tapi penuh humor tanpa pernah serius berlebihan. Di tengah anime romansa modern yang sering penuh drama berat atau trope berulang, School Rumble masih jadi standar emas untuk komedi sekolah yang liar, cepat, dan tak kenal malu. BERITA BASKET
Animasi dan Gaya Visual yang Cocok untuk Komedi Absurd: Review Anime School Rumble
Animasi Studio Comet di School Rumble terasa sangat pas dengan nada ceritanya: ekspresi wajah over-the-top, deformasi karakter saat panik atau marah, dan transisi cepat yang membuat setiap lelucon terasa lebih keras. Warna-warna cerah mendominasi—merah untuk amarah Harima, kuning untuk energi Tenma—sementara efek suara dan kartun klasik seperti garis kecepatan, keringat berjatuhan, atau kepala membesar digunakan tanpa ragu. Tidak ada visual mewah atau sakuga epik; malah kekuatannya ada pada kesederhanaan yang sengaja dibuat berlebihan untuk memperkuat komedi.
Setiap episode penuh dengan gags visual: Harima yang tiba-tiba berubah jadi karakter manga shonen saat berhalusinasi, atau Tenma yang berlari dengan gaya kartun saat excited. Di 2026, ketika banyak anime komedi bergantung pada timing halus atau referensi pop culture, gaya School Rumble yang frontal dan tidak malu-malu terasa semakin segar. Ia seperti komedi slapstick klasik yang dibungkus dalam setting SMA Jepang—cepat, kacau, dan langsung mengena.
Karakter yang Berlebihan tapi Sangat Lucu: Review Anime School Rumble
Karakter School Rumble adalah mesin utama komedi anime ini. Harima Kenji adalah preman sekolah yang sebenarnya pemalu dan romantis di dalam—ia menulis manga shoujo tapi malu kalau ketahuan, dan selalu salah paham saat mencoba mendekati Tenma. Tenma Tsukamoto sendiri adalah gadis ceria yang polos tapi clueless soal perasaan orang lain, membuat setiap usaha Harima berakhir dengan kegagalan epik.
Lingkaran karakter pendukung memperkaya kekacauan: Yakumo adik Tenma yang pendiam tapi punya crush rahasia pada Harima, Eri Sawachika yang tsundere kaya raya, Mikoto yang tomboy dan jago olahraga, serta Akira yang suka bikin masalah. Setiap orang punya kepribadian ekstrem yang saling bertabrakan: dari rivalitas konyol antar cowok, persaingan antar cewek, hingga subplot romansa sampingan yang sama absurdnya. Tidak ada yang benar-benar jahat; malah semua konflik muncul dari salah paham dan ego remaja yang berlebihan. Di era sekarang, ketika banyak anime romansa fokus pada satu pasangan utama, School Rumble berani menampilkan ensemble cast besar yang semuanya punya momen lucu sendiri, membuat setiap episode terasa penuh dan tidak pernah membosankan.
Humor yang Cepat dan Referensi Budaya yang Abadi
Humor School Rumble adalah yang paling khas: cepat, berlapis, dan sering mengandalkan timing serta absurditas situasi. Salah satu kekuatannya adalah bagaimana penulis menggabungkan komedi fisik (Harima terpeleset atau terjatuh dari pohon), komedi situasi (semua orang salah paham satu sama lain), dan parodi genre lain—dari manga shonen, drama romansa klise, hingga film aksi. Episode filler seperti festival sekolah, liburan pantai, atau kompetisi memasak selalu diisi dengan gag-gag yang tidak terduga, sering kali melibatkan seluruh kelas dalam kekacauan massal.
Referensi budaya pop Jepang dan Barat juga berlimpah—dari parodi Dragon Ball hingga lelucon tentang makanan cepat saji—tapi tidak terasa dipaksakan. Di 2026, humornya masih terasa segar karena tidak bergantung pada tren sementara; malah kekacauan remaja yang universal membuatnya mudah dinikmati lintas generasi. Banyak penggemar bilang mereka masih tertawa pada lelucon yang sama seperti dulu, membuktikan daya tahan komedi fisik dan timing yang baik.
Kesimpulan
School Rumble adalah anime yang berhasil menangkap esensi kekacauan remaja dengan cara paling liar dan menghibur. Harima, Tenma, dan seluruh kelas 2-C memberikan cerita yang ringan tapi penuh tawa, dengan animasi pas, karakter berlebihan yang lucu, dan humor cepat yang tak kenal lelah. Hampir dua dekade berlalu, anime ini masih terasa segar, sering ditonton ulang saat orang butuh hiburan murni tanpa drama berat, dan tetap jadi salah satu yang paling direkomendasikan di genre komedi romansa sekolah. Ia mengingatkan bahwa cinta remaja sering kali absurd, salah paham, dan penuh kegagalan—tapi justru itulah yang membuatnya menyenangkan. Bagi penonton lama maupun yang baru menemukannya, School Rumble bukan sekadar anime; ia adalah ledakan tawa yang tak lekang waktu dan pengingat bahwa masa SMA paling lucu saat semuanya berantakan. Karya ini terus membuktikan bahwa komedi sederhana dengan eksekusi gila bisa bertahan lama dan menyentuh jutaan orang.