Solo Leveling: Raja Aksi Tahun 2024 dibuka dengan sebuah fenomena global di dunia animasi Jepang. Bukan berasal dari manga Shonen Jump atau novel ringan Jepang, melainkan adaptasi dari webtoon (manhwa) Korea Selatan yang paling legendaris: Solo Leveling. Antusiasme terhadap judul ini bisa dibilang tidak masuk akal; jutaan pembaca setia di seluruh dunia telah menanti bertahun-tahun untuk melihat Sung Jin-Woo “bangkit” dalam format animasi.
Beban berat itu jatuh ke pundak A-1 Pictures, studio raksasa di balik kesuksesan Sword Art Online. Pertanyaannya sederhana: mampukah mereka menerjemahkan seni gambar statis mendiang DUBU (seniman manhwa aslinya) yang begitu ikonik menjadi gambar bergerak tanpa menurunkan kualitasnya? Setelah musim pertama berakhir, jawabannya adalah “Ya”. Solo Leveling hadir bukan untuk menawarkan cerita filosofis yang rumit, melainkan untuk menetapkan standar baru tentang bagaimana sebuah anime aksi power fantasy seharusnya dibuat. Ini adalah tontonan adrenalin murni yang memanjakan mata dan telinga.
Pesta Visual: Adaptasi yang Menghormati Sumbernya
Hal pertama yang harus dibahas tentu saja adalah kualitas animasinya. A-1 Pictures tampaknya paham betul bahwa daya tarik utama Solo Leveling adalah visual yang “badass” dan penuh gaya (stylish). Desain karakter Sung Jin-Woo yang berevolusi dari pemuda lemah berwajah polos menjadi sosok maskulin dengan rahang tajam dan mata bersinar biru (“The Glow Up”) dieksekusi dengan presisi yang menakutkan.
Penggunaan efek visual (VFX) dalam anime ini layak diacungi jempol. Aura biru yang menyelimuti Jin-Woo, efek kecepatan saat ia menggunakan belati, hingga desain monster-monster dungeon, semuanya terlihat tajam dan modern. Komposisi warnanya cenderung gelap dan kontras, mempertahankan nuansa gothic dan edgy yang menjadi ciri khas manhwanya. Tidak ada kesan “murah” dalam setiap adegan pertarungan; semuanya terasa berat, cepat, dan berdampak.
Koreografi Aksi: Pertarungan Melawan Igris Solo Leveling: Raja Aksi
Puncak dari pencapaian teknis anime ini terjadi di babak akhir musim pertama, tepatnya saat Job Change Arc. Pertarungan antara Sung Jin-Woo melawan Igris the Blood Red (Ksatria Merah) adalah sebuah masterclass dalam koreografi aksi.
Animator A-1 Pictures tidak sekadar mengadaptasi panel komik, mereka memperluasnya. Pertarungan tangan kosong yang brutal, benturan pedang, hingga manuver akrobatik di udara digambarkan dengan fluiditas yang mencengangkan. Tidak ada slide show atau gambar diam yang malas; setiap detik adalah gerakan dinamis. Adegan ini viral di media sosial bukan tanpa alasan; ia membuktikan bahwa ketika animator Jepang diberikan waktu dan bujet, mereka bisa menciptakan seni kekerasan yang indah.
Audio: Sawano Drop dan “Arise”
Elemen lain yang mengangkat Solo Leveling ke level “God Tier” adalah musiknya. Hiroyuki Sawano, komposer legendaris di balik Attack on Titan, kembali menunjukkan magisnya. Musik latar (scoring) yang ia gubah—perpaduan antara rock elektronik, vokal korus yang megah, dan hentakan bass yang berat—sangat sempurna untuk membangun hype. Setiap kali lagu tema utama “DARK ARIA” diputar di tengah pertarungan, penonton tahu bahwa sesuatu yang epik akan terjadi.
Selain musik, kinerja pengisi suara (seiyuu) Taito Ban sebagai Sung Jin-Woo pantas mendapatkan apresiasi setinggi langit. Ia berhasil menyuarakan dua sisi Jin-Woo: sisi lemah yang putus asa di episode awal, dan sisi dingin serta dominan di episode-episode selanjutnya. Momen ikonik ketika ia mengucapkan satu kata keramat, “Okiro” (Arise/Bangkitlah), disampaikan dengan intonasi berat dan berwibawa yang sukses membuat penonton merinding.
Narasi: Power Fantasy Klasik dengan Tempo Cepat
Jika ada kritik yang bisa dilayangkan, mungkin itu terletak pada kedalaman ceritanya. Solo Leveling adalah definisi murni dari genre Power Fantasy. Ceritanya linear: protagonis lemah mendapat kekuatan curang (sistem gim), berlatih sendirian, dan menjadi tak terkalahkan. Karakter sampingan sering kali terasa hanya sebagai NPC (Non-Playable Character) yang fungsinya hanya untuk terkejut melihat kehebatan Jin-Woo. (berita sepakbola)
Namun, mengkritik Solo Leveling karena ceritanya yang sederhana sama saja dengan mengkritik film John Wick karena kurangnya dialog drama. Anime ini tahu persis apa identitasnya. Ia tidak mencoba menjadi Evangelion. Ia menjual kepuasan instan (dopamine hit) melihat progres karakter yang terus naik level. A-1 Pictures berhasil menjaga tempo (pacing) cerita tetap ngebut, memotong bagian-bagian yang tidak perlu, sehingga setiap episode selalu diakhiri dengan cliffhanger yang membuat penasaran.
Dampak Industri: Gerbang Manhwa Terbuka Lebar
Kesuksesan anime Solo Leveling memiliki implikasi besar bagi industri anime. Ini membuktikan bahwa adaptasi manhwa Korea memiliki potensi pasar yang masif jika digarap dengan serius (berbeda dengan adaptasi Tower of God atau God of High School sebelumnya yang dianggap terburu-buru). Solo Leveling telah membuka gerbang lebar bagi judul-judul manhwa top lainnya seperti Omniscient Reader’s Viewpoint untuk mendapatkan perlakuan serupa di masa depan.
Kesimpulan Solo Leveling: Raja Aksi
Solo Leveling Season 1 adalah kemenangan mutlak bagi para penggemar aksi. Anime ini berhasil memenuhi ekspektasi yang tampaknya mustahil untuk dipenuhi.
Meskipun secara narasi mungkin tidak menawarkan kompleksitas emosional yang dalam, ia menggantikannya dengan tontonan visual yang spektakuler dan kepuasan melihat seorang “underdog” menjadi raja. Bagi Anda yang mencari hiburan yang memacu adrenalin tanpa perlu berpikir keras, Sung Jin-Woo siap mengajak Anda masuk ke dalam dungeon. “Arise”, dan saksikanlah kelahiran raja baru anime aksi.
review anime ….